Pada Siapa Kita Berharap Keadilan dan Kejujuran
Orde Reformasi telah membawa perubahan yang sangat signifikan akan cara berdemokrasi bangsa Indonesia yang semakin matang dan sempurna. Sayang, kematangan berdemokrasi yang ideal mulai tercederai dengan pola-pola kepemimpinan yang kembali ke zaman rezim otoritarianisme. Ada banyak catatan untuk Pilpres 2019....
Berharap kepada media mainstream sebagai corong demokrasi sah-sah saja, tapi kita tahu bagaimana objektifitasnya. Masih tersimpan dalam ingatan, bagaimana sebagian besar media mainstream berusaha menyembunyikan peristiwa sejarah aksi reuni 212 yang nyaris tanpa liputan berarti. Pada saat itu, hanya TVONE yang dengan gagah berani menunjukkan kualitasnya sebagai tv yang objektiv. Namun, akhir-akhir ini TVONE pun kelihatan oleng. Karni Ilyas dengan sangat hati-hati menyebutnya "peselancar tahu kapan bisa bermain-main dulu dengan ombak, dan kapan harus membawa papan selancar pulang dulu ke rumah, karena tentu saja, menghindari badai tsunami yang di luar kendali lagi". Di cuitan berikutnya, Karni Ilyas dengan gamblang berkata, tak semua yang saya ketahui harus saya sampaikan. Sebuah kode kegalauan yang sangat luar biasa.
Kita Berharap kepada KPU dan Bawaslu sebagai penyelenggara yang adil dan jujur mangga wae. Akan tetapi, ketika kecurangan dengan kasat mata bisa kita lihat langsung, salah input yang terus-terusan dan tak terkendali, apa boleh buat, membuat kita harus merasa sesak dan mengelus dada sambil beristigfar. Setali tiga uang dengan lembaga-lembaga survey, Media televisi menjejalkan hasil Quick Count secara massif kepafa pemirsa. Di satu sisi rakyat dihimbau menunggu hasil real count KPU. disisi lain Rakyat dibombardir dengan informasi yang begitu-begitu saja. Rakyat sudah disetting untuk percaya Jokowo-Maruf menang atas Prabowo Sandi dengan mengunci angka di kisaran Prosentase 55 koma dan 44 koma. Oleh situng KPU, Prediksi QC inj dikuatkan dengan hasil konsisten di kisaran tersebut. Padahal, secara logis, kalau input KPU itu adil, harusnya prtosentase data tidak konsisten, tapi kejar-kejaran tergantung daerah yang diinput. Jika daerah basis Jokowi yg diinput, maka suara Jokowi-Maruf yang melesat. Jika basis Prabowo-Sandi yang diinput, maka suara Prabowo-Sandi yang akan mengejar. Ini tidak, terkesan ogah-ogahan dan konsisten. Terlalu... Kata Bang Haji Rhoma Irama mah, he... he....
Berharap kepada kepolisian sebagai aparat negara yang mengayomi dan tak berpihak memang begitu seharusnya. Namun kita kaget, meski nggak kaget2 amat, Ketika Kapolsek Pasirwangi Garut membuka "rahasia" instruksi Sang Komandan, meski pada akhirnya pasti diralat, yang sebenarnya bukan rahasia lagi. Walau di lapangan, kita masih melihat, banyak polisi yang masih bersikap proporsional dan profesional mengawal pemilu sebagai hajatan rakyat berdemokrasi dengan sangat baik.
Berharap kepada hakim2 konstitusi yang kita tahu siapa yang memilihnya. Berharap kepada presiden agar menjadi negarawan. Tapi kita tak yakin, ketika kecurangan dibiarkan karena menguntungkannya. Dan ketidakpastian semakin membuat sebagian masyarakat prustasi akan keadaan yang tak terkendali ini.
Saat ini kita seolah kehilangan kepercayaan kepada siapapun. Sebab semuanya berada dalam lingkaran hegemoni kekuasaan. Kita tak tahu, apakah people power yang digagas Amin Rais, sang Tokoh Reformasi itu merupakan jalan keluar terbaik atau tidak. Saya masih berharap dan tetap berharap. Jalan konstitusional masih bisa dilakukan dan berhasil. Sebab people power dalam arti revolusi rakyat, taruhannya cukup besar seperto terjafi di negara-negara dengan krisis politik yang hampir mirip.
Kami Percaya Padamu yaa Rabb. Pilihlah para negarawan untuk menjadi pemimpin-pemimpin definitif bagi kami. Pemimpin yang membimbing kamk menuju ketaqwaan kepada-Mu yaa Rabb....
Anda boleh berbeda pendapat dengan saya...
Salam Demokrasi Asli dan Bukan Abal-abal
-Alimudin Garbiz
Berharap kepada media mainstream sebagai corong demokrasi sah-sah saja, tapi kita tahu bagaimana objektifitasnya. Masih tersimpan dalam ingatan, bagaimana sebagian besar media mainstream berusaha menyembunyikan peristiwa sejarah aksi reuni 212 yang nyaris tanpa liputan berarti. Pada saat itu, hanya TVONE yang dengan gagah berani menunjukkan kualitasnya sebagai tv yang objektiv. Namun, akhir-akhir ini TVONE pun kelihatan oleng. Karni Ilyas dengan sangat hati-hati menyebutnya "peselancar tahu kapan bisa bermain-main dulu dengan ombak, dan kapan harus membawa papan selancar pulang dulu ke rumah, karena tentu saja, menghindari badai tsunami yang di luar kendali lagi". Di cuitan berikutnya, Karni Ilyas dengan gamblang berkata, tak semua yang saya ketahui harus saya sampaikan. Sebuah kode kegalauan yang sangat luar biasa.
Kita Berharap kepada KPU dan Bawaslu sebagai penyelenggara yang adil dan jujur mangga wae. Akan tetapi, ketika kecurangan dengan kasat mata bisa kita lihat langsung, salah input yang terus-terusan dan tak terkendali, apa boleh buat, membuat kita harus merasa sesak dan mengelus dada sambil beristigfar. Setali tiga uang dengan lembaga-lembaga survey, Media televisi menjejalkan hasil Quick Count secara massif kepafa pemirsa. Di satu sisi rakyat dihimbau menunggu hasil real count KPU. disisi lain Rakyat dibombardir dengan informasi yang begitu-begitu saja. Rakyat sudah disetting untuk percaya Jokowo-Maruf menang atas Prabowo Sandi dengan mengunci angka di kisaran Prosentase 55 koma dan 44 koma. Oleh situng KPU, Prediksi QC inj dikuatkan dengan hasil konsisten di kisaran tersebut. Padahal, secara logis, kalau input KPU itu adil, harusnya prtosentase data tidak konsisten, tapi kejar-kejaran tergantung daerah yang diinput. Jika daerah basis Jokowi yg diinput, maka suara Jokowi-Maruf yang melesat. Jika basis Prabowo-Sandi yang diinput, maka suara Prabowo-Sandi yang akan mengejar. Ini tidak, terkesan ogah-ogahan dan konsisten. Terlalu... Kata Bang Haji Rhoma Irama mah, he... he....
Berharap kepada kepolisian sebagai aparat negara yang mengayomi dan tak berpihak memang begitu seharusnya. Namun kita kaget, meski nggak kaget2 amat, Ketika Kapolsek Pasirwangi Garut membuka "rahasia" instruksi Sang Komandan, meski pada akhirnya pasti diralat, yang sebenarnya bukan rahasia lagi. Walau di lapangan, kita masih melihat, banyak polisi yang masih bersikap proporsional dan profesional mengawal pemilu sebagai hajatan rakyat berdemokrasi dengan sangat baik.
Berharap kepada hakim2 konstitusi yang kita tahu siapa yang memilihnya. Berharap kepada presiden agar menjadi negarawan. Tapi kita tak yakin, ketika kecurangan dibiarkan karena menguntungkannya. Dan ketidakpastian semakin membuat sebagian masyarakat prustasi akan keadaan yang tak terkendali ini.
Saat ini kita seolah kehilangan kepercayaan kepada siapapun. Sebab semuanya berada dalam lingkaran hegemoni kekuasaan. Kita tak tahu, apakah people power yang digagas Amin Rais, sang Tokoh Reformasi itu merupakan jalan keluar terbaik atau tidak. Saya masih berharap dan tetap berharap. Jalan konstitusional masih bisa dilakukan dan berhasil. Sebab people power dalam arti revolusi rakyat, taruhannya cukup besar seperto terjafi di negara-negara dengan krisis politik yang hampir mirip.
Kami Percaya Padamu yaa Rabb. Pilihlah para negarawan untuk menjadi pemimpin-pemimpin definitif bagi kami. Pemimpin yang membimbing kamk menuju ketaqwaan kepada-Mu yaa Rabb....
Anda boleh berbeda pendapat dengan saya...
Salam Demokrasi Asli dan Bukan Abal-abal
-Alimudin Garbiz

Comments
Post a Comment