Mengencangnya Gerakan Kedaulatan Rakyat

Kekuasaan memang selalu seksi untuk diperebutkan. Mendapatkannya adalah sebuah gengsi tinggi dan kebahagiaan. Bagaimana tidak, dengan mendapatkannya, seseorang mendapatkan akses dan keistimewaan luar biasa.
Tak heran, jika seorang presiden yang telah berkuasa satu periode selama lima tahun. Dia akan berusaha untuk menjadi presiden kedua kalinya. Dengan alasan pembangunan belum selesai, memperbaiki kekurangan, demi rakyat, bangsa dan negara. Maka dia beserta timnya akan berteriak lantang, lanjutkan...!
Di periode pertama, seorang presiden terpilih berusaha mengkonsolidasikan seluruh elemen kekuatannya. Menarik oposisi untuk berada di pihaknya. Setidaknya, ditarik anggota koalisi oposisi yang labil, tak loyal dan pragmatis, atau bahkan sejak awal bermain dua kaki. Anggota koalisi oportunis ini yang pertama ditarik masuk, tentu saja dengan iming-iming jabatan menteri, komisaris atau jabatan-jabatan strategis lainnya yang bisa dinegoisasikan. Berlakulah slogan "Tak ada kawan abadi, yang ada kepentingan abadi".
Setelah itu disiapkan instrumen-instrumen agar lancarnya Sang Presiden untuk dapat melenggang ke periode kedua. Disiapkan semuanya, dari mulai orang-orang yang akan masuk di lembaga-lembaga negara, lembaga penyelenggara pemilu, sampai dengan tokoh, pimpinan APARAT TNI dan Polri. Diganti dengan yang loyal pada Presiden untuk menjaga stabilitas dan cipta kondisi yang akan disiapkan.
Aturan-aturan main dibuat sedemikian rupa sehingga menguntungkan calon presiden petahana. Bahkan aturan yang mengharuskan agar petahana cuti atau / mengundurkan diri dihilangkan.
Diselenggarakannya pemilu adalah sebagai cara legal agar pergantiankepemimpinan nasional lahir dari rahim demokrasi. Apa daya, kecurangan-kecurangan sering terjadi menjadi bagian dari paradoks Demokrasi yang belum dewasa.
Pemilu 2019n menyisakan kejanggalan-kejanggalan karena adanya berbagai kecurangan dengankasat mata.Dimulai dari aturan Presidential treshold yang dipaksakan 20%. Aparat berpihak pada calon tertentu, khusunya petahana. Lahirnya narasi-nasari hoak yangterus digulirkan.
Pers danmedia dibungkam dan ahanya menyiarkan hal-halk tertentu hasil settingan. Banyak TV yang hanya menkjadi media propaganda dari calon tertentu dna Partai Politik. Partai Politik yang berkontestasi itu-itu saja. Kalaupun ada Partai baru yang boleh berkompetisi, hanya Partai yang berpihak pada penguasa yang diloloskan. Partai PSI yang sedari kemunculannya disokong penguasa diloloskan meski tak jelas basis pendukungnya. Partai-partai lain yang diloloskan yang tak berpotensi membesar, seperti Partai Garudan dan Berkarya. Partai PBB terseok-seok dari awal, akhirnya diloloskan berkat lobi Ketua Umumnya, Yusril Ihza Mahendra yang terbukti berbelot mendukung Jokowi, atas nama siyasat politik. Meninggalkan sebagian besar Umat Islam yang termangu-mangu dibuatnya. Di akhir pemilu, terbukti tak ada yang lolos melebihi 2% sekalipun.
Sedangkan Partai Idaman, yang sudha besar dengan nama Besar Rhoma Irama dengan kepengurusan ril di setiap Provinsi, Kabupaten danKota bahkan Kecamatan se-Indonesia, tak diloloskan dan dihabisi dari awal. Karena Pemerintah tahu, Partai Idaman berpotensi menjadi Partai Oposisi yang besar. Kabarnya, 3 kali Rhoma Irama dipanggil Jokowi ke Istana. Tapi Beliau konsistenngga mau. Hasilnya, Partai Idaman tak diloloskan PTUN, bahkan seratus saksi yang awalnya diperdengarkan. Tak dihiraukan kesaksiannya.
Umat Islam Cerdas. Suara PPP dengan tokohnya terkena kasus korupsi dan tertangkap tangan KPK. Harus menemui titik terendahnya, suaranya berubah turun drastis. Umat Islam jengah, dengan sikap oportunis Partai Islam sekalipu. Akhirnya PKS mendapat suara mentah. Dianggaop sebagai Partai Islam yang konsisten dengan gerakan dakwahnya. Sebagian Umat Islam menitipkan suaranya pada Partai Dakwah tersebut. dan mendapatkansuara signifikan dari umat Islam yang kecewa pada Partai Basis agama lainnya.
Dengan Komando Sang Reformis Amien Rais. Bangsa Indonesia diserukan untuk melakukan People Power oleh Penasihat BPN tersebut. Dan suara beliau didengar dan menjadi titik awal Gerakan Kedaulatan Rakyat, menuntut agar pemilu curang diberikansangsi. Menuntut agar Paslon no 1 didiskualifikasi. Menuntut atas meninggalnya 700 lebih anggota KPPS, penyelenggara pemilu, dan pihak kepolisian, ditambah 3000 lebih yang masih dirawat di Rumah Sakit. Menuntut adanya otopsi atas berbagai sebabkematian mereka. Menuntut atas ketidakjujuran proses situng yangterbukti banyak melakaukankesalahan entri. Penggiriangan opini melalui Quick Count yang tak dipercaya masyarakat. Namun suara-suara ini diabaikan.
Aparat berpihak berat sebelah, dengan hanya mempidanakan orang-orang yang berada di pihak 02. Menangkapnya dengan tuduhan makar, Eggy Sujana, Ustadz Bahtiar Nasir, Kovlan Zen, diperkarakan.
Terjadi gelombang Aksi pada tanggal 21 dan 22 Mei 2019. Dengan entengnya KPU menyatakan berhasil melakukan rekapitulasi merubah dan mengumumkan kemenangan Pasangan 01 di tengah malam. Dari yang awalnya akandiumumkan tanggal 22. Rakyat semakin gemas,atas manipulasi danperilaku curang seperti itu. Semakin nampak nyata ketidaknetralan KPU.
Rakyat berdemonstrasi dan menuntut atas berbagai kecurangan yang terjadi. Banyak Korban berjatuhan akibat tertembak dan jatuh saat berdemonstrasi.
Sampai saat tulisan ini dibuat. Gerakan Kedaulatan Rakyat menuju Perubahan masih tetap terjadi.
Entah sampai kapan....Mudah-mudahan sampai berhasil....
Semoga Allah SWT melindungi Bangsa ini dan memilihkan yang terbaik untuk kita semua....
Semoga....

-Alimudin Garbiz.....

Comments